Jumat, Maret 20, 2009

Unsur kimia

Unsur kimia, atau hanya disebut unsur, adalah zat kimia yang tak dapat dibagi lagi menjadi zat yang lebih kecil, atau tak dapat diubah menjadi zat kimia lain dengan menggunakan metode kimia biasa. Partikel terkecil dari unsur adalah atom. Sebuah atom terdiri atas inti atom (nukleus) dan dikelilingi oleh elektron. Inti atom terdiri atas sejumlah proton dan neutron. Hingga saat ini diketahui terdapat kurang lebih 117 unsur di dunia.
Gambaran umum
Hal yang membedakan unsur satu dengan lainnya adalah jumlah proton dalam inti atom tersebut. Misalnya, seluruh atom karbon memiliki proton sebanyak 6 buah, sedangkan atom oksigen memiliki proton sebanyak 8 buah. Jumlah proton pada sebuah atom dikenal dengan istilah nomor atom (dilambangkan dengan Z).
Namun demikian, atom-atom pada unsur yang sama tersebut dapat memiliki jumlah neutron yang berbeda; hal ini dikenal dengan sebutan isotop. Massa atom sebuah unsur (dilambangkan dengan "A") adalah massa rata-rata atom suatu unsur pada alam. Karena massa elektron sangatlah kecil, dan massa neutron hampir sama dengan massa proton, maka massa atom biasanya dinyatakan dengan jumlah proton dan neutron pada inti atom, pada isotop yang memiliki kelimpahan terbanyak di alam. Ukuran massa atom adalah satuan massa atom (smu). Beberapa isotop bersifat radioaktif, dan mengalami penguraian (peluruhan) terhadap radiasi partikel alfa atau beta.
Unsur paling ringan adalah hidrogen dan helium. Hidrogen dipercaya sebagai unsur yang ada pertama kali di jagad raya setelah terjadinya Big Bang. Seluruh unsur-unsur berat secara alami terbentuk (baik secara alami ataupun buatan) melalui berbagai metode nukleosintesis. Hingga tahun 2005, dikenal 118 unsur yang diketahui, 93 unsur diantaranya terdapat di alam, dan 23 unsur merupakan unsur buatan. Unsur buatan pertama kali diduga adalah teknetium pada tahun 1937. Seluruh unsur buatan merupakan radioaktif dengan waktu paruh yang pendek, sehingga atom-atom tersebut yang terbentuk secara alami sepertinya telah terurai.
Daftar unsur dapat dinyatakan berdasarkan nama, simbol, atau nomor atom. Dalam tabel periodik, disajikan pula pengelompokan unsur-unsur yang memiliki sifat-sifat kimia yang sama.
Nomenklatur
Penamaan unsur telah jauh sebelum adanya teori atom suatu zat, meski pada waktu itu belum diketahui mana yang merupakan unsur, dan mana yang merupakan senyawa. Ketika teori atom berkembang, nama-nama unsur yang telah digunakan pada masa lampau tetap dipakai. Misalnya, unsur "cuprum" dalam Bahasa Inggris dikenal dengan copper, dan dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan istilah tembaga. Contoh lain, dalam Bahasa Jerman "Wasserstoff" berarti "hidrogen", dan "Sauerstoff" berarti "oksigen".
Nama resmi dari unsur kimia ditentukan oleh organisasi IUPAC. Menurut IUPAC, nama unsur tidak diawali dengan huruf kapital, kecuali berada di awal kalimat. Dalam paruh akhir abad ke-20, banyak laboratorium mampu menciptakan unsur baru yang memiliki tingkat peluruhan cukup tinggi untuk dijual atau disimpan. Nama-nama unsur baru ini ditetapkan pula oleh IUPAC, dan umumnya mengadopsi nama yang dipilih oleh penemu unsur tersebut. Hal ini dapat menimbulkan kontroversi grup riset mana yang asli menemukan unsur tersebut, dan penundaan penamaan unsur dalam waktu yang lama (lihat kontroversi penamaan unsur).
Lambang kimia
Sebelum kimia menjadi bidang ilmu, ahli alkemi telah menentukan simbol-simbol baik untuk logam maupun senyawa umum lainnya. Mereka menggunakan singkatan dalam diagram atau prosedur; dan tanpa konsep mengenai suatu atom bergabung untuk membentuk molekul. Dengan perkembangan teori zat, John Dalton memperkenalkan simbol-simbol yang lebih sederhana, didasarkan oleh lingkaran, yang digunakan untuk menggambarkan molekul.
Sistem yang saat ini digunakan diperkenalkan oleh Berzelius. Dalam sistem tipografi tersebut, simbol kimia yang digunakan adalah singkatan dari nama Latin (karena waktu itu Bahasa Latin merupakan bahasa sains); misalnya Fe adalah simbol untuk unsur ferrum (besi), Cu adalah simbol untuk unsur Cuprum (tembaga), Hg adalah simbol untuk unsur hydrargyrum (raksa), dan sebagainya.
Simbol kimia digunakan secara internasional, meski nama-nama unsur diterjemahkan antarbahasa. Huruf pertama simbol kimia ditulis dalam huruf kapital, sedangkan huruf selanjutnya (jika ada) ditulis dalam huruf kecil.
Simbol non-unsur
Non unsur, khususnya dalam kimia organik dan organometalik, seringkali menggunakan simbol yang terinspirasi oleh simbol-simbol unsur kimia. Berikut adalah contohnya:
Cy - sikloheksil; Ph - fenil; Bz - benzoil; Bn - benzil; Cp - Siklopentadiena; Pr - propil; Me - metil; Et - etil; Tf - triflat; Ts - tosil; Hb - hemoglobin.

Tabel periodik

Tabel periodik unsur-unsur kimia adalah tampilan unsur-unsur kimia dalam bentuk tabel. Unsur-unsur tersebut diatur berdasarkan struktur elektronnya sehingga sifat kimia unsur-unsur tersebut berubah-ubah secara teratur sepanjang tabel. Setiap unsur didaftarkan berdasarkan nomor atom dan lambang unsurnya.
Tabel periodik standar memberikan informasi dasar mengenai suatu unsur. Ada juga cara lain untuk menampilkan unsur-unsur kimia dengan memuat keterangan lebih atau dari persepektif yang berbeda.
Golongan
Kolom dalam tabel periodik disebut golongan. Ada 18 golongan dalam tabel periodik baku. Unsur-unsur yang segolongan mempunyai konfigurasi elektron valensi yang mirip, sehingga mempunyai sifat yang mirip pula.
Ada tiga sistem pemberian nomor golongan. Sistem pertama memakai angka Arab dan dua sistem lainnya memakai angka Romawi. Nama dengan angka Romawi adalah nama golongan yang asli tradisional. Nama dengan angka Arab adalah sistem tatanama baru yang disarankan oleh International Union of Pure and Applied Chemistry (IUPAC). Sistem penamaan tersebut dikembangkan untuk menggantikan kedua sistem lama yang menggunakan angka Romawi karena kedua sistem tersebut membingungkan, menggunakan satu nama untuk beberapa hal yang berbeda.
Cara menampilkan tabel periodik
Tabel periodik standar
Aturan pewarnaan nomor atom dalam tabel periodik di atas:
• Unsur yang nomor atomnya berwarna biru berwujud cair pada keadaan suhu dan tekanan standar (STP),
• Unsur yang nomor atomnya berwarna hijau berwujud gas pada keadaan STP,
• Unsur yang nomor atomnya berwarna hitam berwujud padat pada keadaan STP,
• Unsur yang nomor atomnya berwarna merah adalah unsur sintetis (selalu berwujud padat pada keadaan STP),
• Unsur yang nomor atomnya berwarna kelabu (dan warna latarnya lebih terang dari unsur-unsur lainnya) belum ditemukan (unsur tersebut diberi warna berdasarkan sifat yang kira-kira akan dimiliki oleh unsur tersebut ketika ditemukan).
Penjelasan struktur tabel periodik
Jumlah kulit elektron yang dimiliki sebuah atom menentukan periode atom tersebut. Setiap kulit memiliki beberapa subkulit, yang terisi menurut urutan berikut ini, seiring dengan bertambahnya nomor atom:
1s
2s 2p
3s 3p
4s 3d 4p
5s 4d 5p
6s 4f 5d 6p
7s 5f 6d 7p
8s 5g 6f 7d 8p
...
Berdasarkan hal inilah struktur tabel disusun. Karena elektron terluar menentukan sifat kimia suatu unsur, unsur-unsur yang segolongan umumnya mempunyai sifat kimia yang mirip. Unsur-unsur segolongan yang berdekatan mempunyai sifat fisika yang mirip, meskipun massa mereka jauh berbeda. Unsur-unsur seperiode yang berdekatan mempunyai massa yang hampir sama, tetapi sifat yang berbeda.
Sebagai contoh, dalam periode kedua, yang berdekatan dengan Nitrogen (N) adalah Karbon (C) dan Oksigen (O). Meskipun massa unsur-unsur tersebut hampir sama (massanya hanya selisih beberapa satuan massa atom), mereka mempunyai sifat yang jauh berbeda, sebagaimana bisa dilihat dengan melihat alotrop mereka: oksigen diatomik adalah gas yang dapat terbakar, nitrogen diatomik adalah gas yang tak dapat terbakar, dan karbon adalah zat padat yang dapat terbakar (ya, berlian pun dapat terbakar!).
Sebaliknya, yang berdekatan dengan unsur Klorin (Cl) di tabel periodik, dalam golongan Halogen, adalah Fluorin (F) dan Bromin (Br). Meskipun massa unsur-unsur tersebut jauh berbeda, alotropnya mempunyai sifat yang sangat mirip: Semuanya bersifat sangat korosif (yakni mudah bercampur dengan logam membentuk garam logam halida); klorin dan fluorin adalah gas, sementara bromin adalah cairan bertitik didih yang rendah; sedikitnya, klorin dan bromin sangat berwarna.
Sejarah
Tabel periodik pada mulanya diciptakan tanpa mengetahui struktur dalam atom: jika unsur-unsur diurutkan berdasarkan massa atom lalu dibuat grafik yang menggambarkan hubungan antara beberapa sifat tertentu dan massa atom unsur-unsur tersebut, akan terlihat suatu perulangan atau periodisitas sifat-sifat tadi sebagai fungsi dari massa atom. Orang pertama yang mengenali keteraturan tersebut adalah ahli kimia Jerman, yaitu Johann Wolfgang Döbereiner, yang pada tahun 1829 memperhatikan adanya beberapa triade unsur-unsur yang hampir sama.

Beberapa triade
Unsur Massa atom Kepadatan
Klorin 35,5 0,00156 g/cm3
Bromin 79,9 0,00312 g/cm3
Iodin 126,9 0,00495 g/cm3

Kalsium 40,1 1,55 g/cm3
Stronsium 87,6 2,6 g/cm3
Barium 137 3,5 g/cm3
Temuan ini kemudian diikuti oleh ahli kimia Inggris, yaitu John Alexander Reina Newlands, yang pada tahun 1865 memperhatikan bahwa unsur-unsur yang bersifat mirip ini berulang dalam interval delapan, yang ia persamakan dengan oktaf musik, meskipun hukum oktaf-nya diejek oleh rekan sejawatnya. Akhirnya, pada tahun 1869, ahli kimia Jerman Lothar Meyer dan ahli kimia Rusia Dmitry Ivanovich Mendeleyev hampir secara bersamaan mengembangkan tabel periodik pertama, mengurutkan unsur-unsur berdasarkan massanya. Akan tetapi, Mendeleyev meletakkan beberapa unsur menyimpang dari aturan urutan massa agar unsur-unsur tersebut cocok dengan sifat-sifat tetangganya dalam tabel, membetulkan kesalahan beberapa nilai massa atom, dan meramalkan keberadaan dan sifat-sifat beberapa unsur baru dalam sel-sel kosong di tabelnya. Keputusan Mendeleyev itu belakangan terbukti benar dengan ditemukannya struktur elektronik unsur-unsur pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Selasa, Maret 10, 2009

Alat ukur dasar kimia

ALAT UKUR DASAR KIMIA

1. Labu Takar
Digunakan untuk menakar volume zat kimia dalam bentuk cair pada proses preparasi larutan. Alat ini tersedia berbagai macam ukuran.

2. Gelas Ukur
Digunakan untuk mengukur volume zat kimia dalam bentuk cair. Alat ini mempunyai skala, tersedia bermacam-macam ukuran. Tidak boleh digunakan untuk mengukur larutan/pelarut dalam kondisi panas. Perhatikan meniscus pada saat pembacaan skala.

3. Gelas Beker
Alat ini bukan alat pengukur (walaupun terdapat skala, namun ralatnya cukup besar). Digunakan untuk tempat larutan dan dapat juga untuk memanaskan larutan kimia. Untuk menguapkan solven/pelarut atau untuk memekatkan.

4. Pengaduk Gelas
Digunakan untuk mengaduk suatu campuran atau larutan kimia pada waktu melakukan reaksi kimia. Digunakan juga untuk menolong pada waktu menuangkan/mendekantir cairan dalam proses penyaringan.

5. Botol Pencuci
Bahan terbuat dari plastic. Merupakan botol tempat akuades, yang digunakan untuk mencuci, atau membantu pada saat pengenceran.

6. Corong
Biasanya terbuat dari gelas namun ada juga yang terbuat dari plastic. Digunakan untuk menolong pada saat memasukkan cairan ke dalam suatu wadah dengan mulut sempit, seperti : botol, labu ukur, buret dan sebagainya.

7. dan 8. Erlenmeyer
Alat ini bukan alat pengukur, walaupun terdapat skala pada alat gelas tersebut (ralat cukup besar). Digunakan untuk tempat zat yang akan dititrasi. Kadang-kadang boleh juga digunakan untuk memanaskan larutan.

9. dan 10. Tabung Reaksi
Terbuat dari gelas. Dapat dipanaskan. Digunakan untuk mereaksikan zat zat kimia
dalam jumlah sedikit.

11. Kuvet
Bentuk serupa dengan tabung reaksi, namun ukurannya lebih kecil. Digunakan sebagai tempat sample untuk analisis dengan spektrofotometer. Kuvet tidak boleh dipanaskan. Bahan dapat dari silika (quartz), polistirena atau polimetakrilat.

12. dan 13. Rak Untuk tempat Tabung Reaksi
Rak terbuat dari kayu atau logam. Digunakan sebagai tempat meletakkan tabung reaksi.

14. Kaca Preparat

15. Kawat Kasa
Terbuat dari bahan logam dan digunakan untuk alas saat memanaskan alat gelas
dengan alat pemanas/kompor listrik.

16. dan 22. Penjepit
Penjepit logam, digunakan untuk menjepit tabung reaksi pada saat pemanasan, atau untuk membantu mengambil kertas saring atau benda lain pada kondisi panas.

17. Spatula
Terbuat dari bahan logam dan digunakan untuk alat Bantu mengambil bahan padat atau kristal.

18. Kertas Lakmus
Merupakan indikator berbentuk kertas lembaran-lembaran kecil, berwarna merah dan biru. Indikator yang lain ada yang berbentuk cair missal indikator Phenolphtalein (PP), methyl orange (MO) dan sebagainya. Merupakan alat untuk mengukur atau mengetahui tingkat keasaman (pH) larutan.

19. Gelas Arloji
Terbuat dari gelas. Digunakan untuk tempat zat yang akan ditimbang.

20. Cawan Porselein
Alat ini digunakan untuk wadah suatu zat yang akan diuapkan dengan pemanasan.

21. Pipet Pasteur (Pipet Tetes)
Digunakan untuk mengambil bahan berbentuk larutan dalam jumlah yang kecil.

23 dan 24. Sikat
Sikat dipergunakan untuk membersihkan (mencuci) tabung.

25. Pipet Ukur
Adalah alat yang terbuat dari gelas, berbentuk seperti gambar di bawah ini. Pipet ini memiliki skala. Digunakan untuk mengambil larutan dengan volume tertentu. Gunakan propipet atau pipet pump untuk menyedot larutan, jangan dihisap dengan mulut.

26. Pipet Gondok
Pipet ini berbentuk seperti dibawah ini. Digunkan untuk mengambil larutan dengan volume tepat sesuai dengan label yang tertera pada bagian yang menggelembung (gondok) pada bagian tengah pipet. Gunakan propipet atau pipet pump untuk menyedot larutan.

27. Buret
Terbuat dari gelas. Mempunyai skala dank ran. Digunakan untuk melakukan titrasi. Zat yang digunakan untuk menitrasi (titran) ditempatkan dalam buret, dan dikeluarkan sedikit demi sedikit melalui kran. Volume dari zat yang dipakai dapat dilihat pada skala.

Senin, Maret 09, 2009

Bahan Bakar Fosil

Bahan bakar fosil
(Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)
Bahan bakar fosil, juga dikenal sebagai bahan bakar mineral, adalah sumber daya alam yang mengandung hidrokarbon seperti batu bara, petroleum, dan gas alam. Penggunaan bahan bakar fosil ini telah menggerakan pengembangan industri dan menggantikan kincir angin, tenaga air, dan juga pembakaran kayu atau peat untuk panas.
Ketika menghasilkan listrik, energi dari pembakaran bahan bakar fosil seringkali digunakan untuk menggerakkan turbin. Generator tua seringkali menggunakan uap yang dihasilkan dari pembakaran untuk memutar turbin, tetapi di pembangkit listrik baru gas dari pembakaran digunakan untuk memutar turbin gas secara langsung.
Pembakaran bahan bakar fosil oleh manusia merupakan sumber utama dari karbon dioksida yang merupakan salah satu gas rumah kaca yang dipercayai menyebabkan pemanasan global. Sejumlah kecil bahan bakar hidrokarbon adalah bahan bakar bio yang diperoleh dari karbon dioksida di atmosfer dan oleh karena itu tidak menambah karbon dioksida di udara.


bahan bakar fosil(dari Digjaya)
jumat kemaren (23/5), karena bensin di mobil udah sekarat, terpaksa aku isi bensin. dan gudabrak! hari itu harganya tiba2 melejit. biasanya $A 1,40 per liter, naik jadi $A 1,55 (sekitar Rp. 16 rebu). aku gak punya pilihan lain, selain harus isi. rupanya, harga minyak dunia dah melambung tinggi. petrol segala macam jenis juga naik drastis.

di tanah air, pemerintah RI susah payah menaikkan harga BBM. di canberra sini, harga BBM sangatlah liar, naik turun setiap jam. harga BBM untuk pagi, siang dan malam hari bisa berubah2.
kita harus berani dan pintar2 menebak trend harga BBM. begitu harga turun, langsung kita isi fuel tank. tapi kalau harganya gak turun2 yah gimana dong?

yang membuat banyak orang kesal dengan kenaikan BBM di Indonesia adalah karena Indonesia itu termasuk negara OPEC, alias peng ekspor minyak mentah dunia. kalau harga minyak naik, thus pasti lah negara kita banyak untungnya. tapi kenapa buntung terus ya? karena kita meng impor minyak. aneh juga... negara OPEC kok impor minyak. itu lah sebabnya SBY-JK berpikir untuk keluar saja dari OPEC. jika pertamina dibuat lebih transparan dan kontrak2 perusahaan tambang (asing dan domestik) di review ulang, niscaya negara kita gemah ripah melimpah ruah...



Lingkungan
Selandia Baru Larang Bahan Bakar Fosil

Wellington, Selasa - Selandia Baru akan menjadi negara pertama yang melarang penggunaan bahan bakar fosil pada mesin-mesin pembangkit listrik. Berdasarkan undang-undang baru yang dipromosikan ke Parlemen Selandia Baru, Selasa (4/12), larangan ini berlaku setidaknya selama 10 tahun.

Kebijakan tersebut merupakan upaya Pemerintah Selandia baru mempromosikan produksi listrik yang bisa diperbarui. Selandia Baru sudah menggerakkan 70 persen dari pembangkit tenaga listriknya dari sumber-sumber yang bisa diperbarui

"Kami ingin Selandia Baru akan menjadi negara di dunia pertama yang mengelola energi berkelanjutan," kata Wakil Perdana Menteri Selandia Baru, Michael Cullen. Pemerintah percaya bahwa Selandia Baru harus memainkan bagian ini dalam perang global melawan perubahan iklim.

Organisasi lingkungan hidup Greenpeace menyambut gembira kebijakan Tersebut. Gerakan tersebut merupakan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya di masyarakat internasional. Juru kampanye iklim Greenpeace, Susannah Bailey, mengatakan, pihaknya akan membantu Selandia Baru dalam mempertahankan citranya yang hijau dan bersih, meski melemah pada belakangan ini.

Menteri Energi Selandia Baru, David Parker, mengatakan, moratorium 10 tahun untuk menggunakan bahan bakar dari fosil, seperti batubara untuk pembangkit tenaga listrik akan bisa melegakan manakala hal itu digantikan dengan bahan-bahan yang bisa diperbarui, atau berdasarkan produk sampah. Namun, tindakan darurat masih dibutuhkan untuk menjamin keamanan pasokan listrik terutama untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat terasing.


Sumber: DPA
Penulis: Wah


UDARA BERSIH
Kurangi Ketergantungan
Bahan Bakar Fosil

Selasa, 27 Nopember 2007
JAKARTA (Suara Karya): Sudah waktunya pemerintah, dunia usaha industri otomotif, dan sektor transportasi mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Selanjutnya membuat kebijakan penggunaan low carbon fuels (bahan bakar beremisi rendah) bagi seluruh masyarakat di Indonesia. Hal itu penting, karena pemakaian bahan bakar fosil ternyata berdampak buruk dan memicu terjadinya pemanasan global.

Dampak dari pemanasan global itu sudah dirasakan seperti fenomena El Nino (kekeringan) dan La Nina (musim hujan yang tidak normal) yang menyebabkan munculnya berbagai bencana seperti kebakaran hutan, sawah puso, krisis air bersih, atau hujan di atas normal yang menyebabkan banjir bandang, dan badai.

"Sekalipun Indonesia bukan kategori negara Annex I dalam Protokol Kyoto, bukan berarti tidak harus melakukan apa pun dalam rangka menekan emisi rumah kaca. Pembangunan industri transportasi, di mana di Jakarta pertumbuhan kendaraan bermotor setiap tahunnya bertambah 11-14 persen, akan menghasilkan gas rumah kaca," ujar Ketua Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin dalam diskusi bertema Low Carbon Fuels dan Solusi Pemanasan Global, di Jakarta, Senin .

Bila, pemerintah, dunia swasta industri otomotif dan transportasi tidak mulai membuat kebijakan, maka malapetaka akan semakin gawat menimpa masyarakat Indonesia.

Sementara itu, Kepala Subdit Lindungan Lingkungan Migas Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Yusni Yetti mengatakan, setelah dikeluarkan keputusan presiden (keppres) tentang pembatasan konsumsi BBM, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) telah membuat regulasi pembatasan penggunaan bahan bakar, di antaranya BBM dikurangi 20 persen, gas alam (elpiji) ditambah menjadi 30 persen.

"Jadi dalam rangka kampanye udara bersih, DESDM telah melakukan pembatasan konsumsi BBM, kemudian mendorong perlunya ada bahan bakar alternatif. Ke depan untuk menciptakan udara bersih dengan upaya mengganti bahan bakar fosil dengan bahan bakar low carbon fuels perlu koordinasi yang lebih intensif dengan semua pihak," katanya.

Juga koordinasi pembatasan penggunaan kendaraan bermotor yang sudah saatnya diberlakukan, namun hal itu tidak mudah karena harus diikuti penyediaan sarana transportasi umum massal, sehingga manyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi beralih ke transportasi massal.

Pakar lingkungan hidup, Prof Dr Reginald A Theujs dari Belanda yang menjadi konsultan Kantor Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal mengatan, energi alternatif lain yang bisa digunakan adalah rumput alang-alang, namun hal itu masih perlu riset, dan kajian yang mendalam. (Yon Parjiyono)

Senin, Februari 23, 2009

Sistem Periodik Unsur

Soal Kimia

soal stoikiometri larutan

1.Logam aluminium sebanyak 2,7 gram direaksikan dengan larutan asam sulfat. Hitunglah: (a) Volume gas yang dihasilkan pada t,p tertentu bila 8 gram gas oksigen volumenya 15 liter. (b) Hitung volume asam sulfat 27% yang diperlukan, massa jenis = 1,8 gram/ml.

2.Sebanyak 0,15 gram sampel yang mengandung natrium karbonat dimasukkan ke dalam larutan HCl 0,1 M. Jika diperlukan 14 ml HCl agar reaksi berlangsung sempurna, tentukan kadar natrium karbonat dalam sampel tersebut.

3.Campuran serbuk kalsium oksida dan natrium oksida sebanyak 29,8 gram dilarutkan ke dalam air sampai volumenya menjadi 100 mL. Jika untuk menetralkan larutan campuran ini diperlukan 25 rnL larutan 4 M HNO3, tentukan massa tiap oksida dalam campuran mula-mula. Ar Ca = 40, Na = 23, O = 16

4.Sepotong besi dimasukkan ke dalam larutan asam klorida membentuk 99,25 gram ferro klorida. Hitunglah: (a) massa besi 90% yang diperlukan. (b) Hitunglah volume asam klorida 0,2 M yang diperlukan.

5.Campuran serbuk besi dan seng sebanyak 25,1 gram dimasukkan ke dalam larutan asam nitrat encer dan menghasilkan 7,5 L gas NO (P, T). Bila massa 1 L N2 (P, T) adalah 1,12 gram maka tentukan massa tiap logam dalam campuran mula-mula. Ar N = 14, Fe =56, Zn = 65

6.Ke dalam air dilarutkan 6,2 gram NiSO4 sampai volume larutan tepat 100 mL. Larutan ini dapat tepat bereaksi dengan 50 mL larutan Ba(NO3)2.. Ar Ni = 59. Tentukan: (a) massa endapan yang terjadi, (b) molaritas larutan Ba(NO3)2 yang digunakan.

7.Campuran serbuk seng dan tembaga sebanyak 19,2 gram dimasukkan ke dalam larutan asam klorida menghasilkan 2,5 L gas (P, T). Tentukan volume gas yang terjadi bila campuran logam ini dimasukkan ke dalam larutan asam nitrat encer. Diketahui massa I L gas oksigen, (P, T) = 1,28 gram. Ar Cu = 63,5 Zn = 65

8.Campuran Pb(NO3)2 dan Mg(NO3)2 sebanyak 14,02 gram dilarutkan dalam air sampai volumenya tepat 100 mL. Ke dalam 25 mL larutan yang terjadi dituangkan larutan KCl berlebihan dan terbentuk 1,39 gram endapan. Tentukan massa endapan yang terjadi bila ke dalam 50 mL larutan campuran dimasukkan larutan Na2CO3 yang cukup banyak. Ar Pb = 207, Mg = 24, Cl = 35,5

Jawablah dengan singkat dan tepat! Kadar Zat
1.Sebanyak 100 gram batu kapur dipanaskan ternyata menghasilkan 42 gram kalsium oksida. Tentukan: (a) Kadar CaCO3 dalam batu kapur tersebut. (b) Kadar kalsium dalam batu kapur tersebut.

2.Sebanyak 100 gram pyrit yang mengandung 60 % FeS2 dipanggang menurut reaksi:FeS2(s) + O2(g) --> Fe2O3(s) + SO2(g) reaksi belum setara. Berapa liter gas belerang dioksida dihasilkan pada t,p dimana 1 liter gas nitrogen = 1 gram.

3.Untuk menentukan kadar ammonium sulfat dalam pupuk ZA, 8 gram pupuk ini dilarutkan ke dalam 100 mL air murni. Larutan yang terjadi direaksikan dengan dengan larutan NaOH berlebih kemudian dipanaskan. Gas yang terjadi direaksikan dengan 300 mL larutan HCl 0,4 M, jika untuk menetralkan kelebihan HCl diperlukan 400 mL larutan KOH 0,1 M, tentukan kadar (persen massa) ammonium sulfat dalam pupuk ZA!

4.Untuk menentukan kadar CO2 di udara, 10 L udara dialirkan ke dalam 120 mL air kapur 0,1 M. Untuk menetralkan kelebihan air kapur diperlukan 100 mL larutan HCl 0,02 M. Apabila keadaan diukur pada suhu dan tekanan di mana massa 1 L gas N2 = 1,12 g, tentukan kadar gas CO2 ( v/v) di udara.

Air Kristal

1.Pada pemanasan kristal kalsium sulfat akan berkurang masanya seanyak 21%. Tentukan rumus kristal tersebut.

2.Sebanyak 57,2 gram natrium karbonat kristal dilarutkan dlam air hingga volume larutan tepat 500 ml. Ke dalam 50 ml larutan ini ditambahkan larutan asam klorida encer secukupnya. Seluruh gas CO2 yang dihasilkan dialirkan pada larutan kalsium hidroksida membentuk 2 gram endapan. Tentukan: reaksi yang terjadi dan rumus kristal tersebut.

Hitungan Kimia

1.Sebanyak 0,37 gram senyawa karbon CxHyOz dibakar sempurna, menghasilkan 0,88 gram gas CO2 dan 0,45 gram uap air. Tentukan rumus senyawa karbon tsb.

2.Tentukan massa seng (Ar = 65) yang harus direaksikan dengan asam klorida untuk membentuk 5,6 liter gas hidrogen (STP) menurut reaksi Zn + HCl → ZnCl2 + H2T

3.entukan massa garam Magnesium klorida (Ar Mg = 24; Ar Cl = 35,5) yang terjadi apabila magnesium dilarutkan dalam 100 ml HCl 0,1 M

4.Sebanyak 8,1 gram logam aluminium direaksikan dengan asam sulfat menghasilkan aluminium sulfat dan gas hidrogen. Ar Al=27, S=32, H=1, O=16. Tentukan: (a) Reaksi yang terjadi. (b) Volume asam sulfat 2M yang dibutuhkan. (c) Massa garam yang terjadi. (d) Volume gas hidrogen yang terjadi pada STP. (e) Volume gas hidrogen yang terjadi pada 2 atm 27oC

5.Batu kapur (CaCO3) direaksikan dengan larutan HNO3 2 M menghasilkan 8,96 L gas karbondioksida yang diukur pada keadaan satandart. Tentukan massa CaCO3 dan volume larutan HNO3 yang bereaksi! (Ar: Ca=40; C=12; O=16)

6.Larutan K2CO3 1 M sebanyak 100 mL direaksikan dengan 150 mL larutan HCl 2M. hitung volume gas CO2 yang dihasilkan pada keadaan tertentu, di mana volume dari 6,4 gram O2 = 4 L!

Pereaksi Pembatas

1.Sebanyak 5,4 gram Alumunium direaksikan dengan 100 ml H2SO4 2 M menurut reaksi (Ar Al = 27; N = 14) Al + H2SO4 → Al2(SO4)3 + H2. Tentukan: Pereaksi pembatasnya dan volumegas hidrogen yang dihasilkan pada STP
2.Jika 1 mol NH3 dan 1 mol O2 direaksikan menurut reaksi 4NH3 + 5O2 → 4NO + 6H2O maka tentukan berapa mol zat-zat terdapat setelah reaksi berakhir?

3.Sebanyak 200 ml larutan timbal (II) nitrat 0,3 M direaksikan dengan 300 ml larutan kalium iodida 0,2 M menghasilkan endapan timbal (II) iodida dan larutan kalium nitrat. Ar Pb= 207, I= 127. Tentukan:Reaksi yang terjadi, Pereaksi pembatas, dan Massa endapan yang terjadi

4.Sebanyak 100 gram kristal natrium karbonat direaksikan dengan 100 ml larutan asam klorida 2 M menghasilkan larutan natrium klorida, air dan gas karbon dioksida. Ar Na=23, C=12, Cl =35,5. Tentukan: (a) Reaksi yang terjadi. (b) Pereaksi pembatas. (c) Massa garam yang terjadi. (d) Volume gas yang terjadi pada t,p dimana pada t,p tersebut 1 liter gas nitrogen 1,5 gram

5.Dalam sebuah ruangan direaksikan sebanyak 10 liter gas nitrogen dan 10 liter gas hidrogen menghasilkan gas amoniak. Tentukan: Reaksi yang terjadi dan Volume gas-gas yang terdapat setelah reaksi berakhirSebanyak 4,8 gram logam magnesium direaksikan dengan 300 ml larutan HCl 1M; maka: (a) Tuliskan persamaan reaksinya. (b) Tentukan pereaksi pembatasnya. (c) Hitung massa zat sisanya. (d)Tentukan massa garam dan volume gas yang terbentuk pada suhu 27oC dan tekanan 38 cm Hg!

6.Sebanyak 100 cm3 larutan NaOH 0,3 M direaksikan dengan 200 cm3 larutan H2SO4 0,1M. Hitung konsentrasi garam Na2SO4 yang terbentuk! Hitung konsentrasi pereaksi yang tersisa!

7.Campuran Sebanyak 7,8 gr campuran magnesium dan alumunium dilarutkan dalam asam sulfat menurut reaksi : Mg + H2SO4 → MgSO4 + H2 Al + H2SO4 → Al2(SO4)3 + H2 Jika volume gas H2 yang terjadi (STP) = 8,96 l. Tentukan massa magnesium dan alumunium masing-masing.

8.Larutan perak nitrat berlebih ditambahkan ke dalam campuran larutan KCl dan KBr, menghasilkan 0,762 gram endapan. Carilah susunan campuran jika massa campuran adalah 0,417 gram (Ar K=39; Cl=35,5; Br = 80; Ag = 108).

9.Suatu campuran barium nitrat dan timbal (II) nirat yang massanya 11,84 gram dilarutkan dalam air sampai volumenya 500 mL. Ke dalam 25 mL larutan ini ditambahkan larutan asam sulfat berlebih, setelah dikeringkan terbentuk 0,536 g endapan. Hitung massa masing-masing garam nitrat dalam campuran semula. (Ar Ba=137; Pb=207; S=32; O=16; N=14)

Titrasi

1.Sebanyak 25 mL larutan H2SO4 4 M tepat habis bereaksi dengan larutan NaOH 20 mL. Berapa kemolaran NaOH tersebut?

2.Jika 100 mL larutan HCl 0,3 M direaksikan dengan Ba(OH)2 0,1M. Tentukan volume larutan Ba(OH)2 yang diperlukan untuk menetralkan larutan HCl!

3.Sebanyak 10 ml larutan Ca(OH)2 dititrasi dengan larutan 0,2 H2SO4 dengan menggunakan indikator PP. Bila ternyata dibutuhkan 20 ml larutan 0,2 M H2SO4, berapa molaritas larutan Ca(OH)2?

4.Untuk menetralkan 50 ml larutan KOH dibutuhan 25 ml larutan 0,1 M H2SO4. Berapa konsentrasi KOH tersebut?

5.Dicampurkan larutan 20 ml larutan H2SO4 0,05 M; 80 ml larutan KOH 0,06 M; 40 ml larutan HCl 0,3 M dan 40 ml larutan HCl 0,3 M dan NaOH 0,2 M. Berapa ml asam atau basa bervalensi satu harus ditambahkan lagi untuk menetralkan campuran tersebut?

6.Ditimbang 0,530 gram soda murni yang tidak mengandung air kristal, kemudian dilarutkan dalam air. Larutannya ditambah dengan 150 ml larutan HCl 0,1 M. Campuran ini didihkan beberapa saat , setelah dingin dititrasi dengan larutan Ba(OH)2 0,06 M. Hitung volume Ba(OH)2 yang diperlukan untuk menetralkan larutan ini!

7.Sebanyak 31,5 gram soda berkrital dilarutkan dalam air hingga 500 ml. Sebanyak 50 ml larutan soda ditambahkan dengan 25 ml larutan HCl 0,1 M. CO2 yang dihasilkan dihilangkan dengan cara mendidihkannya. HCl diaanggap tidak ikut hilang dalam pemanasan. Sisa HCl dititrasi dengan 0,15 M larutan KOH. Volume KOH yang dibutuhkan dalam titrasi ini adalah 20 ml. Hitung air kristal yang terkandung dalam soda tersebut! (Ar: Na=23; C=12; O=16)

8.Suatu campuran larutan H2SO4 dan asam nitrat mengandung 1,19 gram kedua asam tersebut. Untuk menetralkan larutan ini dibutuhkan 200 ml larutan KOH 0,117 M. Berapa gram masing-masing garam yang terdapat dalam campuran ini? (Ar: H=1; N=14; O=16, dan S=32)